Enakbagetsport’s Blog
Just another WordPress.com weblog

situs kbm

Sekilas sejarah Kebumen.

Daftar Inventaris Peninggalan Sejarah dan Purbakala terbitan Kanwil Depdikbud Jateng, di Ambal terdapat lumpang batu peninggalan masa prasejarah (tepatnya dari kebudayaan zaman batu). Namun tidak jelas apakah artefak ini in-situ atau bukan, karena tidak ditemukan benda-benda kebudayaan manusia zaman batu lainnya seperti kapak batu, alat sanggurdi dan sebagainya. Sementara dari lokasinya, pesisir selatan Jawa bukanlah horizon Buni, dimana kebudayaan manusia zaman batu berkembang. Horizon Buni ada di pantai utara Jawa, tepatnya dari Jakarta hingga Cirebon.

Keberadaan manusia awal di Kebumen bisa dilacak ke masa Dinasti Sanjaya di era Mataram Hindu (Medang). Ini ditandai dengan yoni dan lingga di situs desa Sumberadi (dahulu Somolangu), di tapal batas timur kota Kebumen. Lingga berupa tonggak batu dengan dasar persegi, bagian tengah segi delapan dan bagian atas bulat tabung (gilig) serta melambangkan Desa Syiwa, sementara Yoni berupa kotak batu dengan lubang persegi di tengahnya sebagai lambang Dewi Uparmati (istri Syiwa). Dalam versi lain, lingga melambangkan phalus (alat kelamin pria) sementara yoni melambangkan wiwara (alat kelamin wanita). Kedua artefak ini biasa ditemukan bersamaan, dimana Lingga ditempatkan didalam lubang Yoni. Penempatan seperti ini melambangkan kesuburan, dan biasa dilakukan oleh kalangan masyarakat Hindu purba yang telah menetap dan terorganisir di suatu lokasi.

Situs Sumberadi berada di kompleks Taman Kanak-Kanak Sumberadi, 200 m di utara alur Sungai Kedungbener. Dulu saya sering bersepeda ke tempat ini, karena ada barisan pohon jambu monyet yang buahnya cukup seger dan merangsang buat anak kecil..

Di situs ini ada 8 lingga (satu telah pecah) dengan tinggi sekitar 0,6 m dan 2 yoni berukuran cukup besar, panjang-lebar-tinggi berkisar 1 m. Keduanya terbuat dari batu andesit, yang umum juga dijumpai di Lembah Kedungbener sebagai blok-blok massif yang bersumberkan pada batuan plutonik (lakolit) di formasi Waturanda Pegunungan Karangsambung, yang sebagian diantaranya bisa kita lihat di Kaligending. Besarnya dimensi Yoni menunjukkan artefak ini tergolong in-situ, sehingga merupakan peninggalan masyarakat zaman dulu yang sudah menetap di tempat tersebut. Ragam hias dinding dan cerat (saluran air) Yoni menunjukkan langgam Jawa Tengah, sama dengan Yoni di kompleks percandian Gunung Wukir (Magelang) tempat ditemukannya prasasti Canggal dari abad 8 M. Sehingga bisa ditarik kesimpulan (prematur) bahwa tempat ini sudah dihuni manusia sejak abad 8 M.

Ini tidak aneh karena pesisir Jawa Tengah bagian selatan menempati posisi penting dalam kerajaan Medang. Wilayah Purworejo misalnya, juga sudah dihuni pada era Sanjaya. Bahkan Rakai Watukura Dyah Balitung Shri Mahasambu, raja terbesar Medang pasca Sanjaya dan Samaratungga serta yang membangun Kompleks Percandian Prambanan, Sewu dan Plaosan, berasal dari pedukuhan Watukura yang berada di dekat muara Sungai Bogowonto.

Kembali ke situs Sumberadi. Artefak di situs ini mungkin tidak berdiri sendiri, namun bagian dari sebuah bangunan candi/altar pemujaan Hindu. Identifikasi adanya candi (yang kini mungkin terpendam) nampak dari toponimi nama-nama daerah di utaranya, yakni desa Candiwulan dan Candimulyo. Di Kebumen, nama Candimulyo juga ditemukan di Kec. Adimulyo, dan nama Candi itu sendiri juga ada di Karanganyar. Namun di sekitar kedua tempat terakhir ini tidak diketahui adanya artefak purbakala. Selain itu di situs Sumberadi juga ada bongkahan-bongkahan batubata berukuran besar (3 kali lebih besar ketimbang batubata modern). Batubata macam itu merupakan bahan bangunan candi-candi langgam Jawa Timur (setelah abad 11 M), berbeda dengan candi-candi langgam Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit.

So, benang merah yang bisa ditarik, situs Sumberadi sudah dihuni sejak abad 8 M dan berlanjut hingga pasca abad 11 M. Evolusi artefak dari lingga-yoni (abad 8 M) menjadi kemungkinan candi/altar pemujaan Hindu (pasca abad 11 M) menunjukkan perkembangan wilayah ini dari rural ke urban. Penghunian mungkin terus berlanjut hingga abad 16 M atau di masa runtuhnya Majapahit dan berkembangnya Demak Bintoro. Mungkin masyarakat Hindu itu pula yang ‘ditemukan’ dan kemudian diislamkan Syaikh Abdul Kahfi Awwal. Maka tak mengherankan jika pesantren tertua di Kebumen, bahkan di tlatah Jawa Tengah bagian selatan, ada di sini, yakni Pesantren al-Kahfi Somolangu. Juga tidak mengherankan jika organisasi pemerintahan pertama di wilayah Kebumen, yakni Kadipaten Sruni alias Bandung Sruni, juga muncul di dekat situs ini. Semua itu masih bisa ditarik benang merahnya.

Dari Kadipaten Sruni inilah legenda Joko Sangkrip (alias KRT RAA Aroengbinang I) muncul, yang disebut-sebut nyantri di al-Kahfi Somolangu. Dari Sruni kemudian muncul dan berkembang Kadipaten Panjer dan Kadipaten Kaleng (nun jauh di barat, sekarang masuk wilayah Puring). Lebih menarik lagi, legenda lokal menyebut dari keturunan Kadipaten Kaleng inilah kemudian muncul dan berkembang Kadipaten Wirasaba, yang kini kita kenal sebagai Banyumas. So, bisa dibayangkan bukan sentralnya peran Kebumen sejak masa silam ?

Belum Ada Tanggapan to “situs kbm”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: